Contoh Obat AINS

Contoh Obat-Obat Analgetik Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)

Di bawah ini adalah obat-obat yang tergolong AINS, yaitu :

1.      Asam mefenamat dan Meklofenamat

Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika dan anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan dengan aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada reumatoid dan osteoartritis. Asam mefenamat dan meklofenamat merupakan golongan antranilat. Asam mefenamat terikat kuat pada pada protein plasma. Dengan demikian interaksi dengan oabt antikoagulan harus diperhatikan.

Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia, diare sampai diare berdarah dan gejala iritasi terhadap mukosa lambung. Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedangakan dosis meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 240-400 mg sehari. Karena efek toksisnya di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan kepada anak dibawah 14 tahun dan ibu hamil dan pemberian tidak melebihi 7 hari.

2.      Diklofenak

Diklofenak merupakan derivat asam fenilasetat.  Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung lengkap dan cepat. Obat ini terikat pada protein plasma 99% dan mengalami efek metabolisma lintas pertama (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat 1-3 jam, dilklofenakl diakumulasi di cairan sinoval yang menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.

Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama seperti semua AINS, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis.

3.      Ibuprofen

Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya efek anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin, sedangkan efek anti-inflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai dicapai setelah 1-2 jam. 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma, ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap.

Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat anti hipertensi karena dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum wanita hamil dan menyusui. Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas dibeberapa negara yaitu inggris dan amerika karena tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesik dan relatif lama dikenal.

4.      Fenbufen

Berbeda dengan AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu pro-drug. Jadi fenbufen bersifat inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberikan 1-2 kali sehari. Absorpsi obat melalui lambung dan kadar puncak metabolit aktif dicapai dalam 7.5 jam. Efek samping obat ini sama seperti AINS lainnya, pemakaian pada pasien tukak lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal dosis harus dikurangi. Dosis untuk reumatik sendi adalah 2 kali 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan 1 kali 600 mg sebelum tidur.

5.      Indometasin

Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-inflamasi sebanding dengan aspirin, serta memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin menghambat enzim siklooksigenase, seperti kolkisin.

Absorpsi pada pemberian oral cukup baik 92-99%. Indometasin terikat pada protein plasma dan metabolisme terjadi di hati. Di ekskresi melalui urin dan empedu, waktu paruh 2- 4 jam. Efek samping pada dosis terapi yaitu pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala hebat dialami oleh kira-kira 20-25% pasien dan disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi akibat penghambatan yang kuat terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.

Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita hamil, gangguan psikiatrik dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila AINS lain kurang berhasil. Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari, untuk mengurangi reumatik di malam hari 50-100 mg sebelum tidur.

6.      Piroksikam dan Meloksikam

Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat asam enolat. Waktu paruh dalam plasma 45 jam sehingga diberikan sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada protein plasma. Frekuensi kejadian efek samping dengan piroksikam mencapai 11-46% dan 4-12%. Efek samping adalah gangguan saluran cerna, dan efek lainnya adalah pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak dianjurkan pada wanita hamil, pasien tukak lambung dan yang sedang minum antikoagulan. Dosis 10-20 mg sehari.

Meloksikam cenderung menghambat KOKS-2 dari pada KOKS-1. Efek samping meloksikam terhadap saluran cerna kurang dari piroksikam.

7.      Salisilat

Asam asetil salisilat yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan. Struktur kimia golongan salisilat.

Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dengan substitusi pada gugus hidroksil, misalnya asetosal. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik dalam kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300 mg/ml. Pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi salisilat segera menyebar ke jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinoval. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik, efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesa tromboksan.

8.      Diflunsial

Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat, bersifat analgetik dan anti inflamasi tetapi hampir tidak bersifat antipiretik. Kadar puncak yang dicapai 2-3 jam. 99% diflunsial terikat albumin plasma dan waktu paruh berkisar 8-12 jam. Indikasi untuk nyeri sedang sampai ringan dengan dosis awal 250-500 mg  tipa 8-12 jam. Untuk osteoartritis dosis awal 2 kali 250-500 mg  sehari. Efek samping lebih ringan dari asetosal.

9.      Fenilbutazon dan Oksifenbutazon

Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat pirazolon. Dengan adanya AINS yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon tidak lagi dianjurkan digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif.

Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat dari pada kerja analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan sebagai obat rematik. Fenilbutazon dimasukan secara diam-diam dengan maksud untuk mengobati keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri.  Efek samping derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik, dan trombositopenia.

4.2.2 Obat-Obat Analgetik Anti Inflamasi Non Steroid yang Dianalisis di BKPM

A.    Piroxicam

1.      Indikasi

Terapi simptomatik reumatoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan muskuloskeletal akut dan gout akut.

2.      Dosis

Dewasa :

a.       Reumatoid artritis, osteoartritis, dan ankilosing spondilitis : dosis awal 20 mg dalam dosis tunggal selama 3 hari, karena pemakaian lebih dari 3 hari tidak memberikan kemanfaatan dan efek samping meningkat.

b.      Gout : 40 mg sehari dalam dosis tunggal atau terbagi selama 4-6 hari.

c.       Gangguan muskuloskeletal : 40 mg sehari selama 2 hari dosis tunggal atau terbagi selama, selanjutnya 20 mg sehari selama 7-14 hari.

d.      Dosis untuk anak belum diketahui.

3.      Efek Samping

Keluhan GI, misalnya epigastrik distres, nausea, gangguan abdominal, atau nyeri, konstipasi, diare, dan flatulen.

Kadang-kadang terjadi edma, pusing, sakit kepala, ruam kulit, pruritus, somnelen (mengantuk disertai turunnya kesadaran), penurunan hemoglobin dan hematokrit.

4.      Mekanisme Kerja

Piroksikam adalah anti-inflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas anti inflamasi, analgetik, dan antipiretik. Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respon imun dan inflamasi, antara lain : penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglandin, penghambatan agregasi netrofil dalam pembuluh darah, penghambatan migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi. Metabolisme terjadi dalam hati dan diekskresi melalui urin, 5% dalam bentuk utuh dalam urin dan feses.

5.      Kontraindikasi

a.       Penderita asma yang mempunyai riwayat tukak lambung, perforasi atau perdarahan lambung.

b.      Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini.

c.       Penderita bronkopasme, poli hidung, dan angioedema.

6.      Interaksi Obat

Pemberian bersam anti koagulan oral, hidantoin harus berhati-hati dan dimonitor. Aspirin tidak boleh diberikan bersama piroksikam karen akan meningkatkan kadar litium dalam darah.

B.     Asam Mefenamat

1.      Indikasi

Meredakan nyeri ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri otot dan nyeri sesudah operasi.

2.      Dosis

Dewasa dan anak-anak > 14 tahun :

a.       Dosis awal : 500 mg kemudian dianjurkan 250 mg tiap 6 jam sesuai dengan kebutuhan.

3.      Efek Samping

a.       Sistem pencernaan : mual, muntah, diare dan rasa sakit pada abdominal.

b.      Sistem hematopietik : leukopenia, eosinofilia, trombositopenia, dan agranulositofenia.

c.       Sistem saraf : rasa mengantuk, pusing, penglihatan kabur dan insomnia.

4.      Mekanisme Kerja

Asam mefenamat merupakan kelompok anti inflamasi non steroid, bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga mempunyai efek analgetik, anti-inflamasi dan antipiretik.

 

5.      Kontraindikasi

a.       Pasien hipersensitif asam mefenamat.

b.      Penderita tukak lambung dan usus.

c.       Penderita dengan gangguan ginjal yang berat.

6.      Interaksi Obat

Penggunaan bersamaan dengan antikoagulan oral dapat memperpanjang “prothrombin”.

7.      Peringatan dan Perhatian

a.       Sebaiknya diminum sesudah makan.

b.      Hati-hati digunakan pada wanita hamil dan menyusui.

c.       Keamanan pengguanaan pada anak-anak dibawah 14 tahun.

C.    Allopurinol

1.      Indikasi

d.      Hipeurisima primer : gout.

e.       Hipeurisima sekunder : mencegah pengendapan asam urat dan kalsium oksalat.

2.      Dosis

Dewasa :

a.       Dosis awal : 100-300 mg sehari.

b.      Dosis pemeliharaan : 200-600 mg sehari.

c.       Dosis tunggal maksimum : 300 mg.

d.      Untuk kondisi ringan : 2-10 mg/kg BB sehari atau 100-200 mg sehari.

e.       Kondisi sedang : 300-600 mg sehari.

f.       Kondisi berat : 700-900 mg sehari.

Anak-anak : 10-20 mg/kg BB sehari atau 100-400 mg sehari.

3.      Efek Samping

a.       Gejala hipersensitifitas seperti ekspoliatif, demam, eosinolia.

b.      Reaksi kulit : pruritis makulopapular.

c.       Gangguan gastrointestinal, mual, diare.

d.      Sakit kepala, vertigo, mengantuk, gangguan mata dan rasa.

e.       Gangguan darah : leukopenia, trombositopenia, anemia aplastik dan anemia hemolitik.

4.      Mekanisme kerja

Allopurinol dan metabolitnya oxipurinol (alloxanthine) dapat menurunkan produksi asam urat dengan menghambat xantin-oksidase yaitu enzim yang dapat mengubah hipoxantin menjadi xantin dan mengubah xantin menjadi asam urat. Dengan menurunkan konsentrasi asam urat dalam darah dan urin, allopurinol mencegah atu menurunkan endapan urat sehingga mencegah terjadinya gout arthritis.

5.      Kontraindikasi

a.       Penderita yang hipersensitif tehadap allopurinol

b.      Keadaan serangan akut gout

 

D.    Natrium Diklofenak

1.      Indikasi

Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis, dan ankilosing spondilitis.

2.      Dosis dan Cara Pemakaian

a.       Osteoartritis : 2-3 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg

b.      Reumatoid artritis : 3-4 kali sehari atau 2 kali sehari 75 mg

c.       Ankilosing spondilitis : 4 kali sehari 25 mg saat akan tidur.

Tablet harus ditelan utuh dengan air, sebelum makan.

3.    Efek Samping

a.       Efek samping yang umum terjadi seperti nyeri/kram perut, sakit kepala, retensi cairan, diare, nausea, kontipasi, flatulen, tukak lambung, pusing, ruam, dan pruritus.

b.      Peninggian enzim-enzim aminotransferase.

c.       Dalam kasus terbatas gangguan hematologi (trombositopenia, anemia, agranulositosis).

4.    Mekanisme Kerja

Diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti-inflamasi, analgesik dan antipiretik. Aktivitas diklofenak dengan jalan menghambat enzim siklooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.

 

 

5.      Kontraindikasi

a.       Penderita yang hipersensitif terhadap diklofenak.

b.      Penderita tukak lambung

6.      Peringatan dan Perhatian

a.       Hati-hati pada penderita dekomposisi jantung dan hipertensi.

b.      Pada penderita fungsi hati, ginjal, dan jantung.

c.       Hati-hati pada selama kehamilan karena dapat menembus plasenata.

d.      Tidak dianjurkan pada ibu menyusui karena diklofenak diekskresi melalui ASI.

E.     Ibuprofen

1.      Indikasi

Meringankan nyeri ringan sampai sedang antara lain nyeri pada nyeri haid (dismenore primer), nyeri pada sakit gigi, sakit kepala dan menurunkan demam.

2.      Dosis

Dewasa danhun  diatas 12 tahun : 1-2 tablet 3 kali sehari.

Anak-anak 6-12 tahun : ½-1 tablet 3 kali sehari.

Diminum sesudah makan atau menurut petunjuk dokter.

3.      Efek Samping

a.       Gangguan saluran cerna termasuk mual, muntah, nyeri lambung, diare, konstipasi, dan pendarahan lambung.

b.      Juga pernah dilaporkan kemerahan pada kulit, trombositopenia.

c.       Penurunan ketajaman penglihatan dan kesulitan membedakan warna dapat terjadi.

4.      Mekanisme Kerja

Ibuprofen adalah golongan obat anti inflamasi non-steroid yang merupakan turunan dari asam propionat yang berkhasiat anti-inflamasi, analgetik, dan antipiretika. Serta bekerja menghambat sintesis prostaglandin.

5.      Kontraindikasi

a.       Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap ibuprofen.

b.      Penderita dengan ulkus peptikum yang berat dan aktif.

c.       Kehamilan tiga bulan terakhir.

6.      Peringatan dan Perhatian

a.       Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

b.      Sebelum menggunakan obat ini agar dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: